Jangan Pernah Mengeluh, Pertolongan Allah pasti Datang

Selasa, 17 Januari 2012 06:17:57 - oleh : admin
Jangan Pernah Mengeluh, Pertolongan Allah pasti Datang

 


Jangan Pernah Mengeluh, Pertolongan Allah pasti Datang


 


Cerita Nyata Keajaiban Sedekah



Jangan
Pernah Mengeluh, Pertolongan Allah pasti Datang

Dalam menjalani hidup yang digariskan Allah Swt mungkin ada getir yang kita
rasakan. Seperti hidup yang kadang terasa manis, maka kegetiran menjadi sebuah
keniscayaan. Hal yang terbaik adalah senantiasa ridha atas ketetapanNya, dan
berbuat yang terbaik untuk mendapatkan keridhaanNya. Bukan mengeluh, sebab
hanya mereka yang tak beriman yang senantiasa putus harapan.


Seperti
kaum muslimin yang menjalani perang Khandaq dalam ayat 214 surat Al Baqarah di
muka. Dalam kondisi paling kritis pun, seorang muslim tidak boleh memiliki
prasangka buruk terhadap Allah, apalagi mengeluh terhadap kondisi yang berlaku.
Ketahuilah pertolongan Allah sungguh amat dekat!

Sore itu Rabu, tanggal 27 Juni 2007 ada sebuah sms masuk ke hp ustadz Burhan.
Sms itu berasal dari Abdul Majid rekannya dan berbunyi: NANTI MALAM SAYA MAU KE
RUMAH BA'DA MAGRIB, BOLEH GA?

Sang ustadz menjawab: BOLEH, TAPI JANGAN BA'DA MAGRIB. ABIS ISYA AJA YA....
DITUNGGU!

Abdul Majid membalas lagi: JGN DITUNGGU, KARENA MAU "NGEREPOTIN".
ANGGAP AJA DATENG MENDADAK!

Ustadz Burhan tidak membalas sms terakhir dan benar saja begitu shalat Isya
telah didirikan, Abdul Majid pun datang ke rumah Ustadz.

Abdul Majid datang ke rumah Ustadz Burhan dengan tampang kusut. Sepertinya dia
lagi banyak masalah. Biasa orang sekarang, Hidup sarat dengan masalah! Saking
pusing dengan masalahnya ia langsung berkata kepada ustadz dan masuk rumahnya
tanpa salam:

"Bang Haji, tolongin saya dong pinjemin duit barang tiga juta setengah...
Saya lagi pusing nih!"

"Emangnya ada apa Majid?" sang ustadz bertanya balik.

Setahu ustadz Burhan, Abdul Majid adalah anak yang baik. Dia baru berumur 27
tahun dan belum menikah. Meski demikian, Abdul Majid mau memikirkan nasib
anak-anak yatim di kampungnya, dan ia pun mendirikan sekolah gratis untuk
mereka. Abdul Majid di kampungnya dikenal sebagai tuan guru.

"Begini... saya pernah janji sama anak-anak di sekolah bahwa kalau mereka
lulus ujian akhir tahun ini saya mau ajak mereka jalan-jalan ke Jakarta.
Semalam saya sudah lihat raport mereka semua. Alhamdulillah mereka lulus! Tapi
tiba-tiba saya terbayang janji saya tempo hari. Malam tadi saya kalkulasi,
keperluan jalan-jalan adalah tiga setengah juta. Hari Jum'at raport dibagiin
dan Sabtu saya mau ajak mereka semua jalan-jalan.... Tolong dong bang haji,
pinjemin saya duit tiga setengah juta!"

Ustadz Burhan hanya tersenyum mendengar penuturan Abdul Majid. Tulus sekali
anak ini, gumamnya. Demi kepentingan anak-anak yatim sampai sedemikian hebatnya
ia memikirkan.

Sambil tersenyum dan menghibur Ustadz Burhan bilang kepada Abdul Majid:

"Begini.... urusan tiga setengah juta gampang nyarinya. Asal elo dan gua
malam ini dan besok mau ngerjain tiga hal:

1) Tahajud malam ini.

2) Berdoa sungguh-sungguh sama Allah agar Dia mau kasih duit sejumlah itu, dan

3) Punya duit berapa sekarang di kantong?"

Kalimat terakhir Ustadz Burhan mengagetkan Abdul Majid. Dengan keheranan ia
bertanya, "Ada sih 250 ribu..!"

"Boleh gak disedekahin 100 ribu?!" ustadz Burhan bertanya.

Sambil keheranan Abdul Majid bertanya, "Disedekahin ke Antum?"

"Nggak.... sedekahin aja kemana ente mau! Insya Allah kalo tiga hal ini
elo kerjain, Allah bakal ngedatengin uang yang kita perluin. Asal kita yakin
Allah bakal nolong!"

Pembicaraan antara dua hamba Allah pun terus berlangsung. Hingga waktu
menunjukkan lebih dari jam 9 malam. Ustadz Burhan pun menyuruh Abdul Majid
pulang.

Namun Abdul Majid belum mau berdiri dari kursi. Maka ustadz pun masuk kamar.
Sejurus kemudian dia membawa 5 lembar uang limapuluh ribuan. Uang itu diberikan
kepada Abdul Majid dan ia pun menghitungnya.

Abdul Majid mengira bahwa keperluannya sebesar tiga juta setengah akan ditutupi
oleh ustadz. Matanya berbinar saat melihat ustadz membawa lembaran kertas
berwarna biru itu. Kelima lembar uang itu dihitungnya dihadapan ustadz. Usai
menghitung Abdul Majid berkata, "Kok Cuma dua ratus lima puluh ribu
doang?" Ia bertanya keheranan, mungkin jumlah yang ia dapati jauh dari
harapan.

"Iya... itu cuma segitu doang. Mudah-mudahan itu jadi pancingan. Yang
penting jangan lupa tiga hal tadi. Insya Allah pasti akan ada
pertolongan!" Ustadz Burhan coba menegaskan.

Tapi Abdul Majid masih belum merasa yakin. Meski sudah diantar hingga ke
halaman oleh Ustadz Burhan, ia masih bertanya, "Emangnya bener kalo saya
kerjain 3 hal tadi, saya bisa dapat duit Jum'at pagi?" Terlihat raut
kebimbangan pada wajah Abdul Majid.

"Jangankan Jum'at pagi, besok pagi pun kalo Allah mau pasti uang itu bisa
kite dapetin. Yang penting yakin dan kerjain aja 3 hal itu!" Ustadz Burhan
sekali lagi meyakinkan.

Akhirnya Abdul Majid pun pulang bersama sepeda motornya.

Kamis siang pukul 13 tanggal 28 Juni 2007, Abdul Majid mengirim SMS ke nomer
ustadz Burhan. Sms itu berbunyi: ASSALAMU'ALAIKUM. SUDAH SIANG GINI SAYA BELOM
DAPET 3,5 JT. PADAHAL SUDAH SHODAQOH. ADA CARA LAIN GA?

Dari sms itu, Ustadz Burhan tahu bahwa Abdul Majid sedang panik. Maka beliau
pun membalas: KALO UDAH SEDEKAH, SEKARANG DOA AJA YANG SUNGGUH-SUNGGUH DAN
BERTAWAKKAL. PASTI ALLAH TOLONG!

Lama tidak ada balasan sms dari Abdul Majid. Ustadz mengira bahwa Abdul Majid
sudah mendapat pertolongan atas masalahnya. Namun pukul 19:56 ada sebuah sms
lagi dari Abdul Majid masuk ke hpnya:

ASTAGFIRULLAHAL'ADZIM. KIRA2 SAYA DOSA APA YA? DO'A SAYA GAK DI QOBUL.

Menerima sms itu Ustadz Burhan turut merasa panik. Besok pagi padahal sudah
hari Jum'at. Hal yang membuat panik sang ustadz adalah bahwa dirinya telah
menggiring Abdul Majid untuk masuk ke jalan Allah Swt demi menyelesaikan permasalahannya.
Ustadz Burhan khawatir, andai saja pertolongan Allah itu tidak datang, pasti
keyakinan Abdul Majid kepada Allah Swt akan berkurang. Lama Ustadz Burhan
berdoa kepada Allah Swt agar dia berkenan memudahkan urusan Abdul Majid. Usai
hatinya tenang, sang ustadz membalas sms dengan menuliskan:

ALLAH GAK BUTA & TULI. DIA NGELIAT DAN NGEDENGER APA YANG KITA PERLUIN.
TERUS SAJA BERDOA DAN TAWAKKAL! SAYA JUGA BERDOA SEMOGA URUSAN INI AKAN DPT
PERTOLONGAN.

Abdul Majid tidak membalas sms. Ustadz Burhan mengira jangan-jangan dia sudah
tidak percaya lagi dengan kekuatan doa. Maka Ustadz Burhan pun terus mendoakan
Abdul Majid dan urusannya.

Hingga saatnya kira-kira pukul 9 pagi di hari Jum'at. Ustadz Burhan mendengar
suara dering masuk di hpnya. Namun karena beliau sedang berada dalam kendaraan
umum, maka hp itu tidak diangkatnya.

Tepat beberapa langkah setelah beliau turun dari metro mini yang ditumpanginya,
sekali lagi hpnya berdering. Beliau tidak sempat melihat nomer penelpon pada
display hp. Belum lagi beliau berucap salam, terdengarlah suara yang begitu
riang di seberang:

"Bang haji.... Alhamdulillah, Alhamdulillah! Ini Majid, saya sudah dapat
duit tiga setengah juta itu. Bukan pinjem lagi, kebetulan ada orang ngasih...
Alhamdulillah!"

Mendengar suara gembira itu, ustadz Burhan turut bersyukur. Beliau pun
bertanya, penasaran "Bagaimana ceritanya bisa dapet duit itu?"

"Entar saya datang ke rumah bang haji deh.... Biar bisa cerita
selengkapnya. Sekarang saya mau pulang ke kampung dulu, ngejar pembagian raport.
Mudah-mudahan besok pagi bisa bawa anak-anak main ke Jakarta!"

Telepon itu pun ditutup dengan diakhiri suara nada riang Abdul Majid. Kini
tinggal, ustadz Burhan bertanya-tanya darimana Allah mendatangkan pertolongan
itu?

Belakangan beliau tahu dari seseorang bahwa bupati dimana Abdul Majid berada
memberikan bantuan kepada sekolahnya persis sebesar uang yang dibutuhkan oleh
Abdul Majid.


 

kirim ke teman | versi cetak | Versi PDF

Berita "Kisah Donatur,Yatim Piatu Dll" Lainnya

Asma'ul Husna

Photo Anak-anak Asuh

Mutiara Hikmah Hari Ini

Pesan Singkat

Team Support

Fery Irawan

Supeno

Indra Saksono

 

 CALL / SMS :

081359802025

081335319772

085645742574

 

Live Traffic